Jumat, 20 November 2015

Mengembangkan Tulisan Dengan MIND MAPPING



Mengembangkan Tulisan Dengan MIND MAPPING

Salah satu kesulitan terbesar penulis pemula adalah menemukan ide tulisan dan mengembangkannya menjadi sebuah tulisan. Kalau itu yang Anda rasakan sekarang ini, maka ini adalah wajar, lha namanya juga baru belajar, hehehe….
Tapi ada juga yang yang sudah punya ide, tapi sulit mengembangkannya, karena kebingungan harus mulai menulis darimana. untuk masalah yang sedang Anda hadapi ini, ada cara sederhana yang bisa Anda lakukan. Salah satu teknik yang diajarkan oleh guru saya, Tendi Murti (seorang penulis buku dengan sudah menerbitkan 15 buku, motivator, dan aktif dalam dunia coaching) yaitu teknik yang dikenal dengan nama MIND MAPPING. Teknik Mind Mapping(peta pikiran) adalah teknik menulis dengan cara membuat rangka tulisan dalam satu halaman saja. jadiyang ditulis dalam rangka tersebut adalah point-point yang ingin disampaikan dalam tulisan atau buku. Untuk lebih memahami teknik mind mapping ini, bisa Anda lihat pada gambar di bawah ini:



Gambar Mind Mapping Buku ‘Bukan Sekedar Nulis, Pastikan Best Seller” Karya Tendi Murti terbitan Elex Media Komputindo Tahun 2015

Kalau gambar atas belum membuat Anda faham, perhatikan contoh sederhana dibawah ini


Ketika saya akan menulis sebuah tulisan dengan tema Kecanduan Belanja, point-point yang ingin saya sampaikan adalah:
  1. Apa yang dimaksud dengan Kecanduan Belanja itu? apakah itu barang, penyakit, atau apa?
  2. Apa dampaknya bagi seseorang yang mengalami kecanduan belanja?
  3. Apa yang menyebabkan seseorang kecanduan belanja?
  4. Apa yang mendasari orang gemar berbelanja?
  5. Bagaimana cara mengetahui seseorang Kecanduan Belanja?
  6. Apa saja tipe-tipe orang yang kecanduan belanja?
  7. Bagaimana cara mengatasi kecanduan ini?
  8. Dan masih banyak lagi yang bisa Anda tambahkan
Berdasarkan point-point di atas, lalu saya mengembangkannya malalui tulisan. Maka hasilnya menjadi seperti di bawah ini:



WASPADALAH!!!
KECANDUAN BELANJA MENGINTAI ANDA

Tahukah Anda bahwa kecanduan belanja adalah salah satu bentuk penyakit? Memang bukan penyakit secara fisik tapi penyakit secara mental. Mengapa disebut penyakit mental? Karena secara tidak sadar dibalik kecanduan ini ada bahaya besar yang mengancam.
Lalu kalau penyakit apa saja dampaknya? Yang jelas bisa menguras isi kantong. Awalnya sih senang-senang. Tapi gak terasa belum akhir bulan, uang yang ada di rekening lenyap gak tau rimbanya. Kan nyesek, emang mau makan apa kalau gak ada duit? Makan batu kali ya, hehehe..
Yang lebih parah lagi kalau kondisi di atas terjadi pada Anda yang sudah menikah. Waduh, bisa tambah berabe tuh. Pertengkaran,dengan pasangan, saling curiga, lempar piring dan peralatan dapur lainnya bisa jadi menu sarapan setiap pagi. Ini jelas bahaya karena mengancam keharmonisan rumah tangga. Kalau udah gak cocok kan larinya bisa ke perceraian. Kalau sudah begini, gawat nih. Naudzubillah…
Awalnya memang pasangan yang terkena kecanduan ini akan menutup-nutupi kecanduan belanjanya. Mereka gak mau kalau sampai pasangannya sampai tahu. Tapi jangan salah, akan timbul perasaan tidak tenang dalam hati, takut dan was-was kalau sampai pasangannya tahu. Hidup gak tentram deh pokoknya.
Yang lebih parah nih, kalau yang kecanduan belanja itu punya kartu kredit. Karena kemudahannya, mereka main gesek aja. Mau barang itu, tinggal gesek, liat yabg menarik tinggal gesek. Gak taunya kartu kreditnya udah overload. Siap-siap tuh main kucing-kucingan dengan debt collector. Akibatnya gak berani angkat telepon. Tiap handphone berdering hatinya gak tenang. Tiap didatangi orang udah curiga duluan.
Pokonya kecanduan ini bikin hati gak tenang, kerugiannya banyak. Bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga berdampak besar buat keluarga. Bahkan yang parah bisa sampai perceraian. Hubungan dengan keluarga yang lain juga menjadi tidak harmonis.
Udah tahu kan bahayanya kan? Untuk lebih memperjelas mengenai kecanduan belanja ini, juga yang perlu Anda tahu adalah bagaiaman penyakit ini bisa muncul. Penyakit ini tidak datang tiba-tiba, ada sebabnya dan ada pemicunya. Jadi kalau Anda sudah tahu penyebabnya, diharapkan Anda semakin mudah menghindarinya.
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa hampir 80% orang berbelanja disebabkan karena faktor emosi, sedangkan sisanya 20% karena faktor kebutuhan. Karena sebagian menggunakan emosi, maka yang sering terjadi adalah timbulnya penyesalan di kemudian hari, karena barang yang sudah dibeli tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, atau tidak sesuai dengan kebutuhan. Kalau Anda sudah sering mengalami penyesalan seperti itu, Anda harus berhati-hati, karena bisa jadi Anda sudah terkena sindron kecanduan belanja ini.
Memang betul, belanja itu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi selain itu, ada juga orang-orang yang belanja dengan alasan yang di luar kewajaran. Bisa jadi mereka belanja membeli barang atau jasa hanya karena stres, cemas, marah, ikut-ikutan, gaya-gayaan dsb. Orang-orang dengan niat seperti ini biasanya punya prinsip “lebih baik menyesal membeli dari pada menyesal tidak membeli”. Kalau sudah punya prinsip kayak gini, waduh, parah. Bisa-bisa gaji yang dialokasikan untuk satu bulan, bisa habis dalam jangka waktu seminggu.
Melihat perkembangan masyarakat yang semakin dinamis dan praktis, kecanduan belanja ini sangat cepat menggejala. Ada beberapa faktor yang menyebabkannya.
1.      Faktor teknologi
Hari gini, siapa sih yang gak punya smartphone? Bahkan ada yang punya lebih dari satu? Alasannya sih karena mobilitasnya yang tinggi, pekerjaan yang banyak, kemudahan berkomunikasi  dan lainnya. Dengan adanya smartphone semakin memudahkan Anda terhubung dengan yang lainnya. Arus informasi semakin cepat. Lewat pengaruh informasi inilah Anda dijejali dengan berbagai jenis barang yang menggoda untuk dibeli
2.      Faktor lingkungan
Tak dapat dipungkiri bahwa lingkunganlah yang membentuk karakter seseorang. Lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang. Kalau lingkungan Anda sekarang adalah lingkungan yang hobi belanja, maka dapat dipastikan Anda ikut terpengaruh dengan gaya hidup mereka.
3.      Faktor pasar
Hampir segala ruang kehidupan kita dibanjiri dengan iklan-iklan. Di jalan, di media online, di tivi semuanya sudah terdampak dengan pengaruh iklan. Iklan tersebut menawarkan berbagai kemudahan dalam belanja. Kartu kredit, online shop adalah kemudahan-kemudahan yang pasar tawarkan kepada Anda

Lalu berdasarkan faktor penyebab tersebut, muncullah alasan-alasan mengapa orang kecanduan belanja ini. Berikut beberapa alasan mengapa orang gemar berbelanja:
1.      Ada rasa bahagia ketika mereka berbelanja
Apa sih yang Anda rasakan setelah berbelanja? Rasa puas bukan? karena memang iklan yang ditawarkan kepada Anda membuat Anda jadi penasaran. Oleh karena itu Anda harus segera membelinya. Setelah Anda membelinya rasa penasaran itu hilang.
Jangan heran, kerana memang pada saat itu otak Anda sedang memproduksi endorfin dan dopamin, yang membuat mereka merasa senang dan bahagia. Karena muncul perasaan baik itu, lama-lama Anda menjadi 'ketagihan' untuk berbelanja.
2.      Tidak mampu mengatasi perasaan negatif
Siapa sih yang tidak punya masalah dalam kehidupan ini? Rasa senang, sedih adalah perasaan yang datang silih berganti. Tapi tahukah Anda orang-orang yang lemah dalam ketahanan dirinya, cenderung ketika mengalami hal yang tidak mengenakkan (stress, depresi, tertekan, marah dsb) menjadikan belanja sebagai tempat pelariannya.
3.      Ada kekosongan dalam hati mereka
Orang-orang yang hatinya kosong, tidak tahu harus mengerjakan apa cenderung mengisinya dengan hal-hal yang membuat mereka merasa nyaman dan bahagia, salah satunya lewat belanja. Ketika mereka berbelanja, kekosongan itu menjadi terobati, tapi ini efeknya hanya sementara, ketika kekosongan itu timbul lagi, mereka akan belanja kembali
4.      Sensai unik muncul
Apa yng Anda rasakan setelah berbelanja? Perasaan puas dan bahagia. Maka tidak heran kebanyakan kaum hawa betah berjam-jam memilih barang hanya untuk memuaskan hasrat mereka saja. akan tetapi Sering kali mereka menyesal karena telah membeli barang yang tidak berguna saat sampai di rumah.
5.      Kurang terpenuhinya keinginan pada saat kecil
Pernahkan Anda melihat orang yang sudah dewasa,punya hobi mengoleksi barang-barang yang sesungguhnya itu hanya cocok untuk anak kecil. Boleh jadi mereka pada saat kecil menginginkan barang-barang tersebut. Akan tetapi karena orang tua mereka tidak pernah membelikannya, jadilah keinginan itu hanya sebatas mimpi. Ketika mereka sudah dewasa dan memillki kemampuan finansial, mereka seperti 'membalas dendam' dengan membeli apa saja yang mereka inginkan. 

6.      Gaya hidup
Secara tak sadar, kita ini dikelilingi dengan berbagai macam gaya hidup. Ada yang senang bermewah-mewah, ada juga yang sederhana. Kalau kita bergaul dengan orang yang bermewah-mewah, kita pun akan cenderung mengikuti gaya hidup mereka. Untuk orang seperti ini, rela belanja hanya untuk memenuhi status sosial dalam kelompoknya. Mereka pun dalam keputusan untuk berbelanja, cenderung terpengaruh dengan kondisi lingkungannya.
Lalu bagaimana cara mendeteksi apakah saya ini termasuk orang yang kecanduan belanja atau tidak? Teknik ini saya ambilkan dari ebook Ronny F. Ronodrdjo dengan judul Shopaholic. Ronny F. Ronodirdjo adalah seorang pakar Neuro-Linguistic Programming (NLP). NLP adalah program untuk mengelola pikiran dan emosi Anda, sehingga Anda lebih mudah untuk mencapai kesuksesan. Kalau masih butuh informasi tentang NLP, Anda dapat mencarinya di Google.  
Berikut ini item-item untuk mengetahui Anda kecanduan belanja atau tidak. Jika 4 (empat) dari 12 (dua belas) ini mewakili kepribadian Anda, maka Anda tergolong orang yang kecanduan belanja. Ingat ya cuma 4 karakter. Selamat ujian, hehehe…
No.
Yang Dirasakan
Centang (√)
1.
Ingin berbelanja dan menghabiskan uang sebagai akibat dari suatu perasaan kecewa, marah atau takut

2.
Setelah berbelanja atau melakukan pengeluaran uang menyebabkan adanya gangguan emosi atau permasalahan

3.
Bertengkar dengan orang lain atau keluarga mu mengenai kebiasaan belanja atau pengeluaran

4.
Merasa mengalami kekalahan atau merasa menjadi “kecil” jika tidak punya kartu kredit

5.
Seringnya kamu membeli barang secara kredit, yang tidak bakalan kamu lakukan jika harus dibayar tunai

6.
Saat menghabiskan uang, merasa euphoria (kesenangan melambung tinggi) dan kecemasan di saat yang sama

7.
Melakukan belanja atau pengeluaran uang terasa seperti melakukan tindakan sembrono atau ada perasaan “dilarang”

8.
Merasa bersalah, kesal sendiri, atau bingung setelah berbelanja atau melakukan pengeluaran uang

9.
Membeli barang-barang yang tidak diinginkan padahal kamu tidak punya rencana untuk menggunakannya sama sekali

10.
Berbohong pada orang lain tentang apa yang dibeli atau berapa banyak uang yang dihabiskan

11.
Seringkali kamu berpikir berlebihan tentang uang dan bagaimana kamu akan memakainya untuk berbelanja

12.
Menggunakan beberapa macam kartu kredit dan mengatur waktu tagihan untuk menyiasasti jadwal pengeluaran yang berbeda


Gimana hasilnya? Apakah Anda termasuk orang dengan kecanduan belanja? Kalau jawabannya iya, Anda harus segera mengatasi kecanduan ini. Tapi sebelum Anda tahu bagaimana cara mengatasinya, sebaiknya Anda tahu juga apa saja tipe kecanduan belanja ini. Bagi Anda yang tidak termasuk orang yang kecanduan belanja pun harus tahu tipe ini, agar bisa mendeteksi orang-orang di sekitar Anda, keluarga, kerabat. Apakah mereka termasuk orang kecanduan belanja atau tidak.
  1. Pembeli Pemburu Image
Orang yang masuk dalam kategori ini adalah orang yang berbelanja dengan tujuan mendapatkan perhatian dari orang lain. Dengan kata lain orang dengan tipe kecanduan belanja seperti ini ingin menunjukkan kelasnya kepada lingkungannya. Seperti membeli mobil mewah, perhiasan, tas ber-merk agar dianggap orang kaya.

  1. Pembeli Kompulsif
Orang yang masuk dalam kategori ini adalah orang yang berbelanja sekedar untuk emngalihkan perasaannya saja. misanya mereka sedih, mereka belanja. Bahayanya orang dengan tipe ini adalah apabila mereka sedang bad mod, maka akan memicu mereka untuk berbelanja. Berbelanja apa saja yang penting dapat menghilangkan mod negative tersebut.

  1. Pembeli diskonan
Orang yang masuk tipe ini adalah orang yang sudah termakan dengan bujuk rayu startegi pemasaran yaitu diskon. Dalam pandangan orang dengan tipe ini, apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak,apabila barang tersebut mendapatkan diskon mereka tetap akan membelinya. Yang penting tidak melewatkan “diskon”.

  1. Pembeli Bulimia
Bulimia adalah salah satu kecanduan yang menyebabkan orang ingin makan sesuatu, padahal ia sebenarnya tidak lapar, kemudian dimuntahkan lagi secara diam-diam karena ia takut gemuk. Orang dengan tipe ini akan cepat sekali menghamburkan uangnya , karena ingin mencicipi segala jenis makanan. Tapi akan membuangnya kembali. Membeli lagi dan membuangnya kembali. Begitu seterusnya.


  1. Pembeli Kolektor
Pada dasarnya orang dengan tipe ini telah memiliki barang yang diinginkannya. Akan tetapi karena ingin melengkapi model barang yang sudah ada, mereka kemudian membeli barang yang lain. Contohnya mereka sudah mempunyai tas warna hitam, untuk melengkapinya mereka kemudian membeli tas warna merah, hijau, biru dan sebagainya.

Sudah tahu kira-kira tipe Anda dimana? Akan lebih mudah mengatasi kecanduan belanja ini, karena sudah ketahuan apa penyebabnya. Akan tetapi secara umum, berikut cara efektif yang bisa kamu lakukan untuk menghentikan kecanduan belanja ini:
  1. Perubahan kebiasan sehari-hari
Kalau sekarang ini Anda hobi belanja karena sering keluar jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, nongkrong yang gak ada manfaatnya. Sebaiknya kurangi kegiatan-kegiatan tersebut. Isi waktu luang Anda dengan kegiatan yang produktif. Seperti menulis, atau membaca buku. Alangkah baiknya kalau Anda memang ingin berbelanja, siapkan daftar belanja terlebih dahulu. Daftar barang yang tercantum di sana, itulah yang harus Anda beli. Tidak boleh membeli barang yang di luar dari daftar tersebut. Ingat, Anda harus memaksa diri Anda untuk tidak membeli barang-barang yang lain.

  1. Teknik ‘Tombol Reset” Pikiran
Kecanduan belanja ini akan semakin parah jika menggunakan kartu kredit atau pembayaran non-tunai. Karena uang yang Anda keluarkan tidak teras dan tidak tampak wujud fisiknya. Inilah yang membuat orang semakin mudah terbuai. Oleh karena itu, Anda harus mampu mengontrolnya lewat pikiran Anda, caranya:
-          Gunakan uang tunai di setiap pengeluaran, terkecuali pengeluaran yang sifatnya mendesak
-          Miliki maksimal 1 kartu kredit saja
-          Tinggalkan semua ATM di rumah, bawa 1 saja jikalau Anda bepergian keluar dan isi rekeningnya pun harus diisi dengan nominal tertentu, misalnya 1 atau 2 juta.
-          Buat catatan pembelian di buku kecil atau di smartphone Anda. Ini untuk mempermudah Anda mengecek pengeluaran. Kemudian Anda akumulasikan di akhir minggu dan akhir bulan, lihat saldo totalnya.
Dengan melakukan tahap di atas, tanpa sadar sebenarnya Anda sedang membangun kembali pikiran Anda bahwa “belanja=keluar uang”

  1. Doa
Sambil mempraktikkan hal-hal di atas, tidak ada salahnya Anda perkuat dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena Dialah yng bisa membolak-balikkan hati setiap orang, hanya Dia yang bisa membuka pikiran manusia, sehingga menyadari bahaya kecanduan belanja ini.

Saya berharap setelah membaca artike ini, Anda semakin paham mengenai bahaya kecanduan belanja ini. Karena pada dasarnya bukan diri Anda lah yang dirugikan, tapi juga berdampak terhadap keluarga, kerabat dan lingkungan sekitar. Jadi semakin cepat Anda mengobati kecanduan belanja ini, akan semakin berdampak positif untuk orang di sekitar Anda. Bukankah sebenarnya dalam impian Anda, ingin membahagiakan mereka bukan?

Begitulah cara sederhana mengembangkan ide ataupun tema tulisan. Anda dapat mengembangkannya sendiri di rumah. Yang perlu Anda tahu juga, bahwa penulis hebat kerap menggunakan teknik ini dalam menulis bukunya. Hal ini memang tidak dapat dipungkiri, karena tekniknya yang sederhana sehingga gampang untuk dimengerti juga siapapun bisa menggunakannya, asalkan mereka faham.
Bagaimana? Tidak sulit kan menulis itu? yang sulit itu adalah proses memulainya. Maka mulailah sari sekarang, dari cara yang sederhana. Menulis yuk ^_^

Selasa, 17 November 2015

Bahayanya Tugas KMO dari Kang Tendi




Bahayanya Tugas KMO dari Kang Tendi

Semenjak saya memposting ikrar untuk menjadi penulis di laman facebook saya, berbagai macam  respon yang saya terima, terutama dari lingkungan dimana saya berada. Alhamdulillah kalo dilihat dari jumlah like di facebook, lumayanlah 35 likes. Ini saya anggap sebuah dukungan buat saya dan Alhamdulillah ada juga yang mendoakan semoga sukses. Tapi yang diluar dugaan saya adalah respon dari teman-teman sekitar. Ada yang nyindir, ada yang tanya-tanya judul buku saya. Kalo udah gini saya cuma senyum-senyum kecil. Saya gak mau jawab, biar nanti hasilnya saja yang mereka lihat. Bahkan ada yang tanya, “emang bukunya udah terbit di gramedia? Jleb, nyesek banget rasanya, tapi saya berusaha tersenyum, mungkin udah resiko. Jalanin aja, kalo nyerah berarti kalah.

Dengan mengikrarkan diri sebenarnya kita dituntut untuk dapat menyelesaikan penerbitan buku yang kita rencanakan ini. Coba banyangkan kalo sampai ikrar ini tidak tercapai atau buku kita tidak terbit, betapa malunya kita, karena semua orang sudah tahu, bahwa kita telah berikrar yang berarti kita telah telah membuat janji. Kalau sampai tidak ditepati maka nama baik taruhannya. Kalau sampai tidak jadi, maka sangat sedikit yang akan mempercayai perkataan kita lagi. 

Tidak ada lagi jalan untuk berhenti, berhenti berarti gagal. Bukankah hidup ini juga hakekatanya adalah berjalan. Hidup ini adalah bergerak. Bergerak berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jikalau dalam hidup, berarti berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Dari yang dulu tidak menjadi apa, setelah menulis menjadi seorang penulis. 

Oleh Albert Einsten, hidup ini juga diibaratkan seperti menaiki sepeda, untuk tetap seimbang, kita harus mengayuhnya. Berhenti mengayuh berarti jatuh. Sekarang pilihannya ada di kita. Apakah mau berhenti mengayuh atau tetap berjalan untuk menjaga keseimbangan. 

Dengan adanya ikrar ini juga kita sebetulnya sedang terdesak, terdesak untuk menyelesaikannya. Terdesak untuk segera mewujudkannya. Kalau dalam istilahnya Mas Jaya Setiabudi, pengusaha sukses pendiri yukbisnis.com, hukum keterdesakan ini disebut sebagai The Power of Kepepet. Dalam bukunya, beliau menjelaskan betapa hebatnya seseorang jika sudah dihadapkan pada situasi kepepet. Oleh karena itu kondisi kepepet ini lebih besar kekuatannya jiga dibandingkan dengan kekuatan motivasi. 

Kalau kita sudah tahu resikonya jika kita tidak bersungguh-sungguh, maka tidak ada alasan untuk menunda mengerjakannya. Biarkanlah segala keraguan menjadi bumbu penyedap yang menyertai dalam kegiatan berproses ini. 

Marilah dengan ikrar yang telah kita buat ini, kita bersungguh-sungguh untuk menunaikannya. Bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Tidak apa segala keraguan, cemoohan, sindiran yang kita terima untuk saat ini. Tapi lihatlah jika apa yang telah kita ikrarkan ini sampai terwujud. Semua keraguan, cemoohan dan sindiran itu akan terbungkam, dan berubah 180 derajat. 

Semoga apa yang saya tulis ini dapat memotivasi saya dan juga Anda yang telah berkenan membacanya, semoga segala kemudahan dan kekuatan dari Tuhan YME tercurahkan untuk kita semua. Amin ya robbal alamin….