Mengembangkan Tulisan Dengan MIND MAPPING
Salah
satu kesulitan terbesar penulis pemula adalah menemukan ide tulisan dan
mengembangkannya menjadi sebuah tulisan. Kalau itu yang Anda rasakan sekarang
ini, maka ini adalah wajar, lha namanya juga baru belajar, hehehe….
Tapi ada juga yang yang
sudah punya ide, tapi sulit mengembangkannya, karena kebingungan harus mulai
menulis darimana. untuk masalah yang sedang Anda hadapi ini, ada cara sederhana
yang bisa Anda lakukan. Salah satu teknik yang diajarkan oleh guru saya, Tendi
Murti (seorang penulis buku dengan sudah menerbitkan 15 buku, motivator, dan
aktif dalam dunia coaching) yaitu teknik yang dikenal dengan nama MIND MAPPING. Teknik Mind Mapping(peta
pikiran) adalah teknik menulis dengan cara membuat rangka tulisan dalam satu
halaman saja. jadiyang ditulis dalam rangka tersebut adalah point-point yang
ingin disampaikan dalam tulisan atau buku. Untuk lebih memahami teknik mind
mapping ini, bisa Anda lihat pada gambar di bawah ini:
Gambar Mind Mapping Buku ‘Bukan
Sekedar Nulis, Pastikan Best Seller” Karya Tendi Murti terbitan Elex Media
Komputindo Tahun 2015
Kalau gambar
atas belum membuat Anda faham, perhatikan contoh sederhana dibawah ini
Ketika saya akan menulis sebuah tulisan dengan tema Kecanduan Belanja, point-point yang
ingin saya sampaikan adalah:
- Apa yang dimaksud dengan Kecanduan Belanja itu? apakah itu barang, penyakit, atau apa?
- Apa dampaknya bagi seseorang yang mengalami kecanduan belanja?
- Apa yang menyebabkan seseorang kecanduan belanja?
- Apa yang mendasari orang gemar berbelanja?
- Bagaimana cara mengetahui seseorang Kecanduan Belanja?
- Apa saja tipe-tipe orang yang kecanduan belanja?
- Bagaimana cara mengatasi kecanduan ini?
- Dan masih banyak lagi yang bisa Anda tambahkan
Berdasarkan point-point di atas, lalu saya
mengembangkannya malalui tulisan. Maka hasilnya menjadi seperti di bawah ini:
WASPADALAH!!!
KECANDUAN BELANJA MENGINTAI ANDA
Tahukah Anda bahwa kecanduan
belanja adalah salah satu bentuk penyakit? Memang bukan penyakit secara fisik
tapi penyakit secara mental. Mengapa disebut penyakit mental? Karena secara
tidak sadar dibalik kecanduan ini ada bahaya besar yang mengancam.
Lalu kalau penyakit apa saja
dampaknya? Yang jelas bisa menguras isi kantong. Awalnya sih senang-senang.
Tapi gak terasa belum akhir bulan, uang yang ada di rekening lenyap gak tau
rimbanya. Kan nyesek, emang mau makan apa kalau gak ada duit? Makan batu kali
ya, hehehe..
Yang lebih parah lagi kalau
kondisi di atas terjadi pada Anda yang sudah menikah. Waduh, bisa tambah berabe
tuh. Pertengkaran,dengan pasangan, saling curiga, lempar piring dan peralatan
dapur lainnya bisa jadi menu sarapan setiap pagi. Ini jelas bahaya karena
mengancam keharmonisan rumah tangga. Kalau udah gak cocok kan larinya bisa ke
perceraian. Kalau sudah begini, gawat nih. Naudzubillah…
Awalnya memang pasangan yang
terkena kecanduan ini akan menutup-nutupi kecanduan belanjanya. Mereka gak mau
kalau sampai pasangannya sampai tahu. Tapi jangan salah, akan timbul perasaan
tidak tenang dalam hati, takut dan was-was kalau sampai pasangannya tahu. Hidup
gak tentram deh pokoknya.
Yang lebih parah nih, kalau
yang kecanduan belanja itu punya kartu kredit. Karena kemudahannya, mereka main
gesek aja. Mau barang itu, tinggal gesek, liat yabg menarik tinggal gesek. Gak
taunya kartu kreditnya udah overload. Siap-siap tuh main kucing-kucingan dengan
debt collector. Akibatnya gak berani angkat telepon. Tiap handphone berdering
hatinya gak tenang. Tiap didatangi orang udah curiga duluan.
Pokonya kecanduan ini bikin
hati gak tenang, kerugiannya banyak. Bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga
berdampak besar buat keluarga. Bahkan yang parah bisa sampai perceraian.
Hubungan dengan keluarga yang lain juga menjadi tidak harmonis.
Udah tahu kan bahayanya kan?
Untuk lebih memperjelas mengenai kecanduan belanja ini, juga yang perlu Anda
tahu adalah bagaiaman penyakit ini bisa muncul. Penyakit ini tidak datang
tiba-tiba, ada sebabnya dan ada pemicunya. Jadi kalau Anda sudah tahu
penyebabnya, diharapkan Anda semakin mudah menghindarinya.
Berdasarkan penelitian,
diketahui bahwa hampir 80% orang berbelanja disebabkan karena faktor emosi,
sedangkan sisanya 20% karena faktor kebutuhan. Karena sebagian menggunakan
emosi, maka yang sering terjadi adalah timbulnya penyesalan di kemudian hari,
karena barang yang sudah dibeli tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, atau
tidak sesuai dengan kebutuhan. Kalau Anda sudah sering mengalami penyesalan
seperti itu, Anda harus berhati-hati, karena bisa jadi Anda sudah terkena
sindron kecanduan belanja ini.
Memang betul, belanja itu
untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tapi selain itu, ada juga orang-orang yang
belanja dengan alasan yang di luar kewajaran. Bisa jadi mereka belanja membeli
barang atau jasa hanya karena stres, cemas, marah, ikut-ikutan, gaya-gayaan
dsb. Orang-orang dengan niat seperti ini biasanya punya prinsip “lebih baik
menyesal membeli dari pada menyesal tidak membeli”. Kalau sudah punya prinsip
kayak gini, waduh, parah. Bisa-bisa gaji yang dialokasikan untuk satu bulan,
bisa habis dalam jangka waktu seminggu.
Melihat perkembangan
masyarakat yang semakin dinamis dan praktis, kecanduan belanja ini sangat cepat
menggejala. Ada beberapa faktor yang menyebabkannya.
1.
Faktor
teknologi
Hari gini, siapa sih yang gak punya smartphone? Bahkan ada yang punya
lebih dari satu? Alasannya sih karena mobilitasnya yang tinggi, pekerjaan yang
banyak, kemudahan berkomunikasi dan
lainnya. Dengan adanya smartphone semakin memudahkan Anda terhubung dengan yang
lainnya. Arus informasi semakin cepat. Lewat pengaruh informasi inilah Anda
dijejali dengan berbagai jenis barang yang menggoda untuk dibeli
2.
Faktor
lingkungan
Tak dapat dipungkiri bahwa lingkunganlah yang membentuk karakter
seseorang. Lingkungan dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang. Kalau lingkungan
Anda sekarang adalah lingkungan yang hobi belanja, maka dapat dipastikan Anda
ikut terpengaruh dengan gaya hidup mereka.
3.
Faktor
pasar
Hampir segala ruang kehidupan kita dibanjiri dengan iklan-iklan. Di
jalan, di media online, di tivi semuanya sudah terdampak dengan pengaruh iklan.
Iklan tersebut menawarkan berbagai kemudahan dalam belanja. Kartu kredit,
online shop adalah kemudahan-kemudahan yang pasar tawarkan kepada Anda
Lalu berdasarkan faktor
penyebab tersebut, muncullah alasan-alasan mengapa orang kecanduan belanja ini.
Berikut beberapa alasan mengapa orang gemar berbelanja:
1.
Ada rasa bahagia
ketika mereka berbelanja
Apa sih yang Anda rasakan setelah
berbelanja? Rasa puas bukan? karena memang iklan yang ditawarkan kepada Anda
membuat Anda jadi penasaran. Oleh karena itu Anda harus segera membelinya.
Setelah Anda membelinya rasa penasaran itu hilang.
Jangan heran, kerana memang pada
saat itu otak Anda sedang memproduksi endorfin
dan dopamin, yang membuat mereka merasa senang dan bahagia. Karena muncul
perasaan baik itu, lama-lama Anda
menjadi 'ketagihan' untuk berbelanja.
2.
Tidak mampu
mengatasi perasaan negatif
Siapa sih yang tidak punya
masalah dalam kehidupan ini? Rasa senang, sedih adalah perasaan yang datang silih
berganti. Tapi tahukah Anda orang-orang yang lemah dalam ketahanan dirinya,
cenderung ketika mengalami hal yang tidak mengenakkan (stress, depresi,
tertekan, marah dsb) menjadikan belanja sebagai tempat pelariannya.
3.
Ada kekosongan
dalam hati mereka
Orang-orang yang hatinya kosong,
tidak tahu harus mengerjakan apa cenderung mengisinya dengan hal-hal yang
membuat mereka merasa nyaman dan bahagia, salah satunya lewat belanja. Ketika
mereka berbelanja, kekosongan itu menjadi terobati, tapi ini efeknya hanya
sementara, ketika kekosongan itu timbul lagi, mereka akan belanja kembali
4.
Sensai unik muncul
Apa yng Anda rasakan setelah berbelanja? Perasaan puas
dan bahagia. Maka tidak heran kebanyakan kaum hawa betah berjam-jam memilih
barang hanya untuk memuaskan hasrat mereka saja. akan tetapi Sering
kali mereka menyesal karena telah membeli barang yang tidak berguna saat sampai
di rumah.
5.
Kurang
terpenuhinya keinginan pada saat kecil
Pernahkan Anda melihat orang yang sudah dewasa,punya
hobi mengoleksi barang-barang yang sesungguhnya itu hanya cocok untuk anak
kecil. Boleh jadi mereka pada saat kecil menginginkan barang-barang tersebut.
Akan tetapi karena orang tua mereka tidak pernah membelikannya, jadilah
keinginan itu hanya sebatas mimpi. Ketika mereka sudah dewasa dan memillki
kemampuan finansial, mereka seperti 'membalas dendam' dengan
membeli apa saja yang mereka inginkan.
6.
Gaya
hidup
Secara tak sadar, kita ini dikelilingi dengan berbagai
macam gaya hidup. Ada yang senang bermewah-mewah, ada juga yang sederhana.
Kalau kita bergaul dengan orang yang bermewah-mewah, kita pun akan cenderung
mengikuti gaya hidup mereka. Untuk orang seperti ini, rela belanja hanya untuk
memenuhi status sosial dalam kelompoknya. Mereka pun dalam keputusan untuk
berbelanja, cenderung terpengaruh dengan kondisi lingkungannya.
Lalu bagaimana cara
mendeteksi apakah saya ini termasuk orang yang kecanduan belanja atau tidak? Teknik
ini saya ambilkan dari ebook Ronny F. Ronodrdjo dengan judul Shopaholic. Ronny
F. Ronodirdjo adalah seorang pakar Neuro-Linguistic Programming (NLP). NLP adalah
program untuk mengelola pikiran dan emosi Anda, sehingga Anda lebih mudah untuk mencapai kesuksesan. Kalau masih butuh informasi tentang NLP, Anda
dapat mencarinya di Google.
Berikut ini item-item untuk
mengetahui Anda kecanduan belanja atau tidak. Jika 4 (empat) dari 12 (dua belas)
ini mewakili kepribadian Anda, maka Anda tergolong orang yang kecanduan
belanja. Ingat ya cuma 4 karakter. Selamat ujian, hehehe…
No.
|
Yang Dirasakan
|
Centang (√)
|
1.
|
Ingin
berbelanja dan menghabiskan uang sebagai akibat dari suatu perasaan kecewa,
marah atau takut
|
|
2.
|
Setelah berbelanja
atau melakukan pengeluaran uang menyebabkan adanya gangguan emosi atau
permasalahan
|
|
3.
|
Bertengkar
dengan orang lain atau keluarga mu mengenai kebiasaan belanja atau
pengeluaran
|
|
4.
|
Merasa
mengalami kekalahan atau merasa menjadi “kecil” jika tidak punya kartu kredit
|
|
5.
|
Seringnya kamu
membeli barang secara kredit, yang tidak bakalan kamu lakukan jika harus
dibayar tunai
|
|
6.
|
Saat
menghabiskan uang, merasa euphoria (kesenangan melambung tinggi) dan
kecemasan di saat yang sama
|
|
7.
|
Melakukan
belanja atau pengeluaran uang terasa seperti melakukan tindakan sembrono atau
ada perasaan “dilarang”
|
|
8.
|
Merasa
bersalah, kesal sendiri, atau bingung setelah berbelanja atau melakukan
pengeluaran uang
|
|
9.
|
Membeli
barang-barang yang tidak diinginkan padahal kamu tidak punya rencana untuk
menggunakannya sama sekali
|
|
10.
|
Berbohong pada
orang lain tentang apa yang dibeli atau berapa banyak uang yang dihabiskan
|
|
11.
|
Seringkali
kamu berpikir berlebihan tentang uang dan bagaimana kamu akan memakainya
untuk berbelanja
|
|
12.
|
Menggunakan
beberapa macam kartu kredit dan mengatur waktu tagihan untuk menyiasasti
jadwal pengeluaran yang berbeda
|
Gimana hasilnya? Apakah Anda
termasuk orang dengan kecanduan belanja? Kalau jawabannya iya, Anda harus segera
mengatasi kecanduan ini. Tapi sebelum Anda tahu bagaimana cara mengatasinya,
sebaiknya Anda tahu juga apa saja tipe kecanduan belanja ini. Bagi Anda yang
tidak termasuk orang yang kecanduan belanja pun harus tahu tipe ini, agar bisa
mendeteksi orang-orang di sekitar Anda, keluarga, kerabat. Apakah mereka
termasuk orang kecanduan belanja atau tidak.
- Pembeli Pemburu Image
Orang yang masuk dalam kategori ini adalah orang yang
berbelanja dengan tujuan mendapatkan perhatian dari orang lain. Dengan kata
lain orang dengan tipe kecanduan belanja seperti ini ingin menunjukkan kelasnya
kepada lingkungannya. Seperti membeli mobil mewah, perhiasan, tas ber-merk agar
dianggap orang kaya.
- Pembeli Kompulsif
Orang yang masuk dalam kategori ini adalah orang yang
berbelanja sekedar untuk emngalihkan perasaannya saja. misanya mereka sedih,
mereka belanja. Bahayanya orang dengan tipe ini adalah apabila mereka sedang bad mod, maka akan memicu mereka untuk
berbelanja. Berbelanja apa saja yang penting dapat menghilangkan mod negative
tersebut.
- Pembeli diskonan
Orang yang masuk tipe ini adalah orang yang sudah
termakan dengan bujuk rayu startegi pemasaran yaitu diskon. Dalam pandangan
orang dengan tipe ini, apakah barang tersebut dibutuhkan atau tidak,apabila
barang tersebut mendapatkan diskon mereka tetap akan membelinya. Yang penting
tidak melewatkan “diskon”.
- Pembeli Bulimia
Bulimia adalah salah satu kecanduan yang menyebabkan
orang ingin makan sesuatu, padahal ia sebenarnya tidak lapar, kemudian
dimuntahkan lagi secara diam-diam karena ia takut gemuk. Orang dengan tipe ini
akan cepat sekali menghamburkan uangnya , karena ingin mencicipi segala jenis
makanan. Tapi akan membuangnya kembali. Membeli lagi dan membuangnya kembali.
Begitu seterusnya.
- Pembeli Kolektor
Pada dasarnya orang dengan tipe ini telah memiliki
barang yang diinginkannya. Akan tetapi karena ingin melengkapi model barang
yang sudah ada, mereka kemudian membeli barang yang lain. Contohnya mereka
sudah mempunyai tas warna hitam, untuk melengkapinya mereka kemudian membeli
tas warna merah, hijau, biru dan sebagainya.
Sudah tahu kira-kira tipe
Anda dimana? Akan lebih mudah mengatasi kecanduan belanja ini, karena sudah
ketahuan apa penyebabnya. Akan tetapi secara umum, berikut cara efektif yang
bisa kamu lakukan untuk menghentikan kecanduan belanja ini:
- Perubahan kebiasan sehari-hari
Kalau sekarang ini Anda hobi belanja karena sering
keluar jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, nongkrong yang gak ada manfaatnya.
Sebaiknya kurangi kegiatan-kegiatan tersebut. Isi waktu luang Anda dengan
kegiatan yang produktif. Seperti menulis, atau membaca buku. Alangkah baiknya
kalau Anda memang ingin berbelanja, siapkan daftar belanja terlebih dahulu.
Daftar barang yang tercantum di sana, itulah yang harus Anda beli. Tidak boleh
membeli barang yang di luar dari daftar tersebut. Ingat, Anda harus memaksa
diri Anda untuk tidak membeli barang-barang yang lain.
- Teknik ‘Tombol Reset” Pikiran
Kecanduan belanja ini akan semakin parah jika
menggunakan kartu kredit atau pembayaran non-tunai. Karena uang yang Anda
keluarkan tidak teras dan tidak tampak wujud fisiknya. Inilah yang membuat
orang semakin mudah terbuai. Oleh karena itu, Anda harus mampu mengontrolnya
lewat pikiran Anda, caranya:
-
Gunakan
uang tunai di setiap pengeluaran, terkecuali pengeluaran yang sifatnya mendesak
-
Miliki
maksimal 1 kartu kredit saja
-
Tinggalkan
semua ATM di rumah, bawa 1 saja jikalau Anda bepergian keluar dan isi rekeningnya
pun harus diisi dengan nominal tertentu, misalnya 1 atau 2 juta.
-
Buat
catatan pembelian di buku kecil atau di smartphone Anda. Ini untuk mempermudah
Anda mengecek pengeluaran. Kemudian Anda akumulasikan di akhir minggu dan akhir
bulan, lihat saldo totalnya.
Dengan melakukan tahap di atas, tanpa sadar sebenarnya
Anda sedang membangun kembali pikiran Anda bahwa “belanja=keluar uang”
- Doa
Sambil mempraktikkan hal-hal di atas, tidak ada
salahnya Anda perkuat dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena Dialah
yng bisa membolak-balikkan hati setiap orang, hanya Dia yang bisa membuka
pikiran manusia, sehingga menyadari bahaya kecanduan belanja ini.
Saya berharap setelah
membaca artike ini, Anda semakin paham mengenai bahaya kecanduan belanja ini.
Karena pada dasarnya bukan diri Anda lah yang dirugikan, tapi juga berdampak
terhadap keluarga, kerabat dan lingkungan sekitar. Jadi semakin cepat Anda
mengobati kecanduan belanja ini, akan semakin berdampak positif untuk orang di
sekitar Anda. Bukankah sebenarnya dalam impian Anda, ingin membahagiakan mereka
bukan?
Begitulah cara sederhana
mengembangkan ide ataupun tema tulisan. Anda dapat mengembangkannya sendiri di
rumah. Yang perlu Anda tahu juga, bahwa penulis hebat kerap menggunakan teknik
ini dalam menulis bukunya. Hal ini memang tidak dapat dipungkiri, karena
tekniknya yang sederhana sehingga gampang untuk dimengerti juga siapapun bisa
menggunakannya, asalkan mereka faham.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar