Selasa, 17 November 2015

Bahayanya Tugas KMO dari Kang Tendi




Bahayanya Tugas KMO dari Kang Tendi

Semenjak saya memposting ikrar untuk menjadi penulis di laman facebook saya, berbagai macam  respon yang saya terima, terutama dari lingkungan dimana saya berada. Alhamdulillah kalo dilihat dari jumlah like di facebook, lumayanlah 35 likes. Ini saya anggap sebuah dukungan buat saya dan Alhamdulillah ada juga yang mendoakan semoga sukses. Tapi yang diluar dugaan saya adalah respon dari teman-teman sekitar. Ada yang nyindir, ada yang tanya-tanya judul buku saya. Kalo udah gini saya cuma senyum-senyum kecil. Saya gak mau jawab, biar nanti hasilnya saja yang mereka lihat. Bahkan ada yang tanya, “emang bukunya udah terbit di gramedia? Jleb, nyesek banget rasanya, tapi saya berusaha tersenyum, mungkin udah resiko. Jalanin aja, kalo nyerah berarti kalah.

Dengan mengikrarkan diri sebenarnya kita dituntut untuk dapat menyelesaikan penerbitan buku yang kita rencanakan ini. Coba banyangkan kalo sampai ikrar ini tidak tercapai atau buku kita tidak terbit, betapa malunya kita, karena semua orang sudah tahu, bahwa kita telah berikrar yang berarti kita telah telah membuat janji. Kalau sampai tidak ditepati maka nama baik taruhannya. Kalau sampai tidak jadi, maka sangat sedikit yang akan mempercayai perkataan kita lagi. 

Tidak ada lagi jalan untuk berhenti, berhenti berarti gagal. Bukankah hidup ini juga hakekatanya adalah berjalan. Hidup ini adalah bergerak. Bergerak berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jikalau dalam hidup, berarti berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Dari yang dulu tidak menjadi apa, setelah menulis menjadi seorang penulis. 

Oleh Albert Einsten, hidup ini juga diibaratkan seperti menaiki sepeda, untuk tetap seimbang, kita harus mengayuhnya. Berhenti mengayuh berarti jatuh. Sekarang pilihannya ada di kita. Apakah mau berhenti mengayuh atau tetap berjalan untuk menjaga keseimbangan. 

Dengan adanya ikrar ini juga kita sebetulnya sedang terdesak, terdesak untuk menyelesaikannya. Terdesak untuk segera mewujudkannya. Kalau dalam istilahnya Mas Jaya Setiabudi, pengusaha sukses pendiri yukbisnis.com, hukum keterdesakan ini disebut sebagai The Power of Kepepet. Dalam bukunya, beliau menjelaskan betapa hebatnya seseorang jika sudah dihadapkan pada situasi kepepet. Oleh karena itu kondisi kepepet ini lebih besar kekuatannya jiga dibandingkan dengan kekuatan motivasi. 

Kalau kita sudah tahu resikonya jika kita tidak bersungguh-sungguh, maka tidak ada alasan untuk menunda mengerjakannya. Biarkanlah segala keraguan menjadi bumbu penyedap yang menyertai dalam kegiatan berproses ini. 

Marilah dengan ikrar yang telah kita buat ini, kita bersungguh-sungguh untuk menunaikannya. Bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Tidak apa segala keraguan, cemoohan, sindiran yang kita terima untuk saat ini. Tapi lihatlah jika apa yang telah kita ikrarkan ini sampai terwujud. Semua keraguan, cemoohan dan sindiran itu akan terbungkam, dan berubah 180 derajat. 

Semoga apa yang saya tulis ini dapat memotivasi saya dan juga Anda yang telah berkenan membacanya, semoga segala kemudahan dan kekuatan dari Tuhan YME tercurahkan untuk kita semua. Amin ya robbal alamin….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar